SAM SUGA MENULIS

Rabu, 24 Juli 2013

Latihan soal bab 3



1.         Jelaskan perkembangan teknologi yang mempengaruhi pelaksanaan peperangan di laut  ? 
2.      Jelaskan dampak dari perkembangan teknologi dan permasalahan yang dihadapi kapal atas air (KAA)  ?
3.         Jelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pertempuran di Laut   ?

Sabtu, 20 Juli 2013

Latihan Soal Bab 2



Latihan Soal.

1.         Jelaskan perbedaan antara perang darat dan perang laut  ?
2.         Jelaskan ciri-ciri khas peperangan laut  ?
3.         Jelaskan tujuan dari perang laut menurut Laksamana Muda Alfred Thayer Mahan dan   Sir Julian S. Corbett    ?

Materi Bab 2



BAB II
CIRI-CIRI KHAS DAN TUJUAN PEPERANGAN LAUT

Deskripsi singkat. 
Dalam pokok bahasan ini akan dijelaskan mengenai Perbedaan Antara Perang Darat dan Perang Laut, Ciri-Ciri Khas Perang Laut, dan Tujuan dari Perang Laut.
Manfaat dan Relevansi. 
Pemahaman pokok bahasan ini sangat penting sebagai pengantar untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya.  Dipahaminya pokok bahasan tersebut diharapkan Kadet dapat mendefinisikan mengenai Perbedaan Antara Perang Darat dan Perang Laut, Ciri-Ciri Khas Perang Laut, dan Tujuan dari Perang Laut.   
Tujuan Intruksional Khusus. 
Pada akhir pemberian materi pokok bahasan ini, diharapkan Kadet TK IV korps (P) akan dapat mendefinisikan Perbedaan Antara Perang Darat dan Perang Laut, Ciri-Ciri Khas Perang Laut, dan Tujuan dari Perang Laut.

3.         Perbedaan Antara Perang Darat dan Perang Laut.
a.         Perang Darat.  Perang darat merupakan bentuk dasar dari pada peperangan, hal ini dikarenakan daratan merupakan aspek alamiah manusia dimana ia dapat bergerak secara bebas, bertempat tinggal, membentuk kubu dan sebagainya.  Bila isu perang timbul, pihak-pihak yang bersengketa sukar untuk saling menghindar.  Bila perang terjadi biasanya pihak penyerang membutuhkan kekuatan yang lebih unggul dan harus mendahului melaksanakan serangan, dengan cara demikian biasanya pihak penyerang dapat memelihara dampaknya terhadap lawan, mendesaknya terus hingga dicapai tujuan akhir dari pada perang yaitu pendudukan wilayah lawan dan penaklukan terhadap rakyat lawan tersebut. Pihak penyerang dibatasi kemampuannya oleh konfigurasi medan dan kubu-kubu musuh. Sebaliknya untuk pihak yang bertahan, biasanya memilki kekuatan yang besar serta wilayah yang dipertahankan relatif terbatas luasnya.     Pihak  yang  bertahan  pada  hakekatnya  dapat mencari posisi sedemikian rupa sehingga pihak penyerang seolah-olah dipaksa untuk menyerang pada kondisi yang menguntungkan pihak yang bertahan.  Pihak yang bertahan akan menjaga agar satuan-satuannya tetap utuh,  dan  berusaha sekuatnya menghindari kekalahan dengan cara mengerahkan seluruh sumber daya diwilayahnya atau mengadakan mundur sementara ke garis dalam pertahanan.  Pada perang darat siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan sangat jelas sehingga dapat dipisahkan.

b.         Perang Laut.  Pada perang laut tidak terdapat dampak serta pengendalian langsung bersama dan tidak terdapat kekuatan pertahanan seperti pada perang darat.  Pada perang laut hampir tidak ada rintangan-rintangan, tidak mungkin dibangun perkubuan dan mobilitas peralatan tempur dalam hal ini kapal sangat tinggi, hal ini mengakibatkan dalam melaksanakan penghindaran relatif lebih mudah.  Pada perang laut pihak yang memiliki kekuatan yang lebih besar dapat menikmati keamanannya karena pihak yang memikliki kekuatan yang lebih besar dapat mengendalikan medan tempur atau memukul mundur musuh.  Hal inilah yang menjadikan ciri khas perang laut bahwa “ Pertahanan hanya akan dijamin keberhasilannya oleh serangan “, dalam hal ini hanya salah satu pihaklah yang dapat mencapai keamanan bagi kepentingan-kepentingannya yang luas dan beragam.

4.         Ciri Khas Peperangan Laut.            Berdasarkan perbedaan antara perang darat dan perang laut tersebut diatas, peperangan laut memilki ciri khas tersendiri.  Ciri-ciri khas dari peperangan laut tersebut antara lain  :
a.                   Dimensi dan media medan tempur. Dimensi dan media medan tempur dalam melaksanakan peperangan laut terdiri dari : bawah permukaan laut, permukaan laut dan ruang diatas permukaan laut. 

b.                  Garis tempur di laut tidak dapat diidentifikasi secara jelas.   Di laut tidak terdapat front yang jelas dari medan tempur seperti halnya pada peperangan di darat. Pada peperangan di darat penguasaan garis tempur dapat dikatakan merupakan ukuran keberhasilan salah satu fihak yang berperang.  Untuk pertempuran di dilaut, penentuan kemenangan tidak dapat di analogikan  secara langsung seperti halnya pertempuran di darat.

c.                   Satuan-satuan angkatan laut menghadapi ancaman lawan pada pelbagai tempat secara acak. Ancaman terhadap satuan-satuan di darat dan satuan-satuan di udara pada umumnya paling besar terletak pada posisi pertahanan mereka yang paling depan, dan semakin berkurang  intensitasnya apabila semakin jauh dari garis pertahanan depan pihak lawan.  Pada satuan-satuan angkatan laut kemungkinan akan menghadapi ancaman lawan dengan intensitas yang sama pada pelbagai tempat secara acak (Random) di peraian nusantara dan sekitarnya.

d.                  Satuan-satuan angkatan laut bersifat mobil. Hal ini berarti bahwa seluruhnya peperangan laut itu mengandung unsur manuvra. Hal ini membawa inflikasi bahwa dalam peperangan laut itu tidak terdapat pertempuran yang dapat direncanakan secara terperinci sekali.
e.                   Dalam peperangan laut harus memperhitungkan pihak-pihak yang tidak ikut dalam peperangan. Hal ini harus dilakukan terutama pada pihak yang tidak ikut berperang berada dekat atau di dalam mandala peperangan laut.  Kapal-kapal dari negara-negara yang tidak ikut berperang ada kemungkinan diserang oleh salah satu pihak yang berperang secara tidak disengaja atau memang secara disengaja. Sebaliknya suatu negara yang tidak ikut berperang mungkin dengan secara sengaja melakukan serangan rahasia terhadap salah satu pihak yang berperang (Biasanya dengan kapal selam) dengan maksud untuk mengurangi kekuatan pihak yang berperang itu karena dikuatirkan akan dapat menjadi musuh.

f.                   Dalam keadan damai satuan-satuan angkatan laut suatu negara mengadakan interaksi secara langsung dengan satuan-satuan angkatan laut dari lawan-lawan potensial.    Perimbangan kekuatan satuan-satuan angkatan laut sering menjadi landasan untuk menciptakan dominasi geografik pada waktu damai.  Faktor ini pada akhirnya memicu masing-masing fihak untuk mengembangkan taktik pada tingkat pendidikan serta latihan dan tingkat kesiagaan yang diperlukan.

g.                  Satuan-satuan angkatan laut relatif mempunyai ekor logistik yang lebih pendek.  Satuan-satuan angkatan laut relatif mempunyai ekor logistik yang lebih pendek jika dibandingkan dengan satuan-satuan angkatan darat, satuan-satuan angkatan laut itu pada umumnya begitu sampai di daerah tujuan, telah siap tempur dan dapat bertahan dalam pertempuran untuk waktu yang relatif lama, tanpa membutuhkan bembekalan ulang. 

h.                  Persoalan penjagaan dan pengawasan di laut relatif lebih sulit dari pada di lingkungan darat.  Faktor-faktor yang menyebabkan lebih sulitnya penjagaan dan pengawasan di laut itu antara lain adalah luasnya daerah,  keacakan tempat kemungkinan terjadinya pertempuran, dan adanya dimensi bawah laut yang perlu pula dijaga serta diawasi, sehingga setiap saat satuan-satuan angkatan laut harus siaga untuk menghadapi serangan lawan dari setiap azimuth (Arah) di permukaan laut, di bawah permukaan laut dan diatas permukaan laut.

5.         Tujuan Peperangan Laut.
a.         Pandangan menurut Laksamana Muda Alfred Thayer Mahan.  Dalam pengkajian tujuan peperangan laut  Laksamana Muda Alfred Thayer Mahan menggunakan pendekatan dengan melaksanakan pembahasan pengaruh daripada kekuatan laut terhadap sejarah.  Berdasarkan pengkajiannya tersebut, Mahan berkesimpulan bahwa tujuan dari pada perang laut adalah penghancuran atau netralisasi armada lawan.  Tujuan tersebut dapat dicapai dengan salah satu atau penggabungan antara sarana-sarana sebagai berikut  :
1.                  Pertempuran di laut yang sebear-besarnya seperti pertempuran Trafalgar.
2.                  Blokade di pelabuhan.
3.       Blokade jarak jauh pelabuhan dengan maksud agar lawan terpaksa terjun dalam pertempuran besar, seperti halnya dengan blokade yang dilakukan oleh Nelson terhadap Toulon.

b.         Pandangan menurut Sir Julian S. Corbett. Sir Julian S. Corbett memulai dengan melaksanakan identifikasi, menguraikan dan memperluas ciri-ciri khas daripada perang laut.  Menurut Corbett tujuan peperangan laut adalah “hasil akhir yang harus dicapai oleh operasi angkatan laut untuk itu tujuan peperang laut harus diarahkan secara langsung atau tidak langsung, untuk mengamankan penguasaan laut atau untuk mencegah lawan mengamankannya “.
Penguasaan laut adalah pengendalian perhubungan maritim untuk suatu tujuan tertentu.  Pengendalian laut tidaklah berarti pendudukan tempat-tempat tertentu sebagaimana di darat, karena hal ini jelas tidak mungkin.  Pengendalian dalam hal ini berarti kemampuan untuk bergerak melintas laut tanpa gangguan atau perlawanan yang berarti dan kemampuan untuk mencegah lawan melakukan gerakan tersebut“.  Suatu cara untuk mencapai pengendalian dan kemudian penguasaan laut adalah dengan melakukan pertempuran. 
Menurut Corbett, pengendalian laut pada setiap daerah dan pada setiap waktu pada umumnya dapat dibedakan berdasarkan katagori sebagai berikut  :
1)         Pengendalian mutlak atau penguasaan laut.  Pada situasi ini, salah satu fihak mempunyai kebebasan lengkap untuk beroperasi tanpa gangguan apapun.  Sebaliknya fihak yang lain tidak dapat beroperasi sama sekali.
2)         Pengendalian kerja.  Pada situasi ini, fihak yang dominan dapat beroperasi dengan derajat kebebasan yang tinggi dan resiko yang kecil. Sebaliknya, fihak lawan dapat beroperasi, namun dengan resiko besar.
3)         Pengendalian dalam pertikaian.  Pada situasi ini, masing-masing fihak beroperasi dengan resiko yang cukup besar.  Masing-masing fihak juga dihadapkan pada keperluan untuk menciptakan pengendalian kerja pada bagian terbatas dari pada laut pada waktu yang terbatas agar dapat melakukan operasi-operasi tertentu.
4)         Pengendalian kerja musuh.  Ini merupakan kebalikan dari pada situasi 2.
5)         Pengendalian mutlak musuh. Ini merupakan kebalikan dari pada situasi 1.




Rangkuman.

Perang darat merupakan bentuk dasar dari pada peperangan.  Bila isu perang timbul, pihak-pihak yang bersengketa sukar untuk saling menghindar.  Pihak penyerang membutuhkan kekuatan yang lebih unggul dan harus mendahului melaksanakan serangan, tujuan akhir dari pada perang darat yaitu pendudukan wilayah lawan dan penaklukan terhadap rakyat lawan tersebut. Pihak penyerang dibatasi kemampuannya oleh konfigurasi medan dan kubu-kubu musuh, pihak bertahan, memilki kekuatan besar, wilayah yang dipertahankan relatif terbatas luasnya.     Pihak bertahan  dapat mencari posisi, agar pihak penyerang dipaksa untuk menyerang pada kondisi yang menguntungkan pihak yang bertahan.  Pihak bertahan akan menjaga satuan-satuannya tetap utuh,  menghindari kekalahan dengan cara mengerahkan seluruh sumber daya diwilayahnya atau mundur sementara ke garis dalam pertahanan.  Siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan sangat jelas dapat dipisahkan.
Pada perang Laut tidak terdapat dampak serta pengendalian langsung bersama dan tidak terdapat kekuatan pertahanan.  Hampir tidak ada rintangan-rintangan, tidak mungkin dibangun perkubuan. Mobilitas peralatan tempur sangat tinggi. Melaksanakan penghindaran relatif lebih mudah.  Pihak yang memiliki kekuatan yang lebih besar dapat mengendalikan medan tempur atau memukul mundur musuh.  Pertahanan hanya akan dijamin keberhasilannya oleh serangan.
Ciri Khas dari Peperangan Laut antara lain : dimensi dan medium medan tempur terdiri di bawah permukaan laut, pada permukaan laut dan ruang diatas permukaan laut,  garis tempur di laut tidak dapat diidentifikasi secara jelas, menghadapi ancaman lawan pada pelbagai tempat secara acak,  satuan-satuan angkatan laut bersifat mobil,  harus memperhitungkan pihak-pihak yang tidak ikut dalam peperangan,  dalam keadan damai satuan-satuan angkatan laut suatu negara mengadakan interaksi secara langsung dengan satuan-satuan angkatan laut dari lawan-lawan potensial,  satuan-satuan angkatan laut relatif mempunyai ekor logistik yang lebih pendek, dan persoalan penjagaan dan pengawasan di laut relatif lebih sulit dari pada di lingkungan darat. 
Tujuan Peperangan Laut menurut Laksamana Muda Alfred Thayer Mahan adalah  penghancuran atau netralisasi armada lawan.  Tujuan tersebut dapat dicapai dengan salah satu atau penggabungan antara sarana-sarana Pertempuran di laut yang sebear-besarnya, Blokade di pelabuhan dan Blokade jarak jauh pelabuhan dengan maksud agar lawan terpaksa terjun dalam pertempuran besar.
Tujuan Peperangan menurut Sir Julian S. Corbett adalah untuk mengamankan penguasaan laut atau untuk mencegah lawan mengamankannya. Penguasaan laut yang dimaksud adalah pengendalian perhubungan maritim untuk suatu tujuan tertentu.  Jenis pengendalian laut dibedakan menurut katagori Pengendalian mutlak atau penguasaan laut, Pengendalian kerja, Pengendalian dalam pertikaian, Pengendalian kerja musuh dan  Pengendalian mutlak musuh

Minggu, 07 Juli 2013

Ada yang mempertanyakan OMSP

Siang ini terasa begitu panas di ruang kerjaku. Pendingin udara yang sudah menyala seminggu lebih akhirnya tdk bisa dinyalakan lagi. Kondisi panas ini agak terkurangi dengan jendela yang kubuka lebar. Karena mata sepet karena ngantuk, itung2 sambil killing the time aku coba merangkai kata. Ada yang menarik saat membaca kompasiana. Menulis membuat kita hebat. Ungkapan ini dituangkan dalam satu makalah di kompasiana. Betul juga pikirku, orang dengan latar belakang yang biasa saja bisa membuat tulisan tentang suatu ide atau gagasan yang tidak semua orang awalnya tahu. Melalui tulisan bisa disampaikan kritikan kepada siapapun termasuk kepada presiden.
Aku menulis disini bukan karena aku ingin menjadi pengkritik, tapi aku memang benar ingin menghilangkan rasa kantuk disamping mengasah kreatifitasku. Saat baca kompas kapan hari itu, ada satu tulisan yang menggelitik. Disitu dalam tulisan tersebut penulis mempertanyakan OMSP yang diemban oleh TNI. Mereka masih merasa kalau ada anggota TNI yang mengantar petugas PLN ke rumahnya untuk mengganti meter listrik dirumahnya adalah suatu bentuk tindakan provokasi. Sementara komandan2 mereka bilang bahwa mereka sedang melaksanakan fungsi OMSP. Disitulah timbul pertanyaan dalam masyarakat sejauh mana peranan OMSP dalam tubuh militer ??? ada yang tahu ?