Syukur pada Tuhan, hari ini aku masih bisa nulis di sini. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari ini, akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa memang tidak mudah !. Tidak mudah menempuh perjalanan alam liar seorang diri. Tapi puji Tuhan aku masih bisa melaluinya sampai hari ini. Rupanya aku melupakan kompas penentu arah. Kupikir aku tak akan memakainya, karena tinggal mengikuti arus berantas, beres ! . Aku salah duga. Si biru tak mungkin aku ajak terjun bebas di ketinggian kemarin. Nyaliku juga belum teruji untuk berkano melewati air terjun. Terpaksa aku harus memanggul si Biru memutar turun ke aliran berikutnya. Disini musibah berawal. Dugaanku bisa langsung dapat jalan, ternyata tak semudah itu. Lebatnya pepohonan menghalangi jalanku menuju pinggiran sungai. Beban si biru ditambah perbekalan menambah beban yang harus kupikul. Orientasi arah lagi-lagi menjadi kelemahanku. Aku benar-benar merasa sendiri, cahaya matahari tak mampu menembus rapatnya pepohonan. Saat itu aku mantapkan hati untuk terus bergerak membawa si biru menembus hutan. Terlalu percaya dirinya aku,sehingga aku tidak ingat lagi kemana arah yang kutuju. Untuk kembali ke titik awal aku angkat si birupun aku sudah tak ingat. Jadilah aku berputar-putar sepanjang hari.
Kesialanku bertambah lagi dengan turunnya hujan. Perut yang mulai teriak serta pundak yang mulai bengkak seakan melepaskan semua semangat dalam diri. Tanpa sempat mendirikan tenda, aku pakai si biru untuk menghalangi derasnya air hujan yang mengguyur. Niatan untuk memasak aku urungkan melihat kondisi alam yang tak memungkinkan. Agak panik juga aku melihat cuaca makin gelap, rupanya sore sudah menjelang. Rencanaku setelah hujan reda aku akan membuat api unggun. Rupanya alam tak bersahabat denganku. Hujan makin deras, seiring gelapnya malam yang menjelang. Akhirnya aku putuskan membawa si biru diantara dua pohon pendek. Aku letakkan sedemikin rupa menjadi semacam atap. Lumayan untuk bertahan di cuaca hujan begini. Kondisi tersebut mengingatkanku saat masih di Magelang dan bisa tidur di lumpur sawah. Ternyata kondisi tersebut aku rasakan lagi setelah 17 tahun kemudian. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat panjang buatku. Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga hujan segera reda dan tidak ada binatang buas yang menghampiriku. Detik demi detik rasanya tak pernah beranjak. Plastik besar yang kubawa sangat berarti untuk menahan curahan air. Kantung tidur aku lapisi dengan plastik besar tersebut sehingga lumayan terlindungi aku.
Saat mengalami hal itu, seolah aku menjadi orang yang paling bodoh. Saat seharusnya aku bisa bersama keluarga saat cuti ini, aku malah harus berada di hutan dan kehujanan. Tetapi saat sudah berlalu, dan menuliskannya disini rasanya seperti suatu pengalaman yang mengesankan. Memang semua rasanya indah saat diceritakan walaupun tidak enak saat menjalaninya.
Senin, 18 Maret 2013
Selasa, 05 Maret 2013
Etape II hari 1
Setelah nulis di bawah pohon waru tadi aku mulai menurunkan si Biru ke air lagi. Etape II hari pertama ini aku lanjutkan lagi. Sengaja dalam perjalananku ini aku tidak mentargetkan jarak. Aku akan mengikuti kecepatan arus yang membawa si biru. Kalau si biru mulai lelah tak bergerak baru aku bantu pakai kayuhan. Rute kedua ini cukup landai, brantas mengalirkan airnya dengan perlahan. Sempat was-was juga kalo-kalo muncul buaya disampingku. Kanan kiri sepanjang jalanku penuh dengan pohon bambu. Benar-benar sunyi menyeruak sekelilingku. Cahaya matahari tak kuasa menembus rimbun daun bambu. Kunikmati sangat suasana sepi ini. Sekilas aku juga melihat kelebatan hewan yang tak yakin aku itu apa. Satu hal yang aku menyesal saat ini, aku lupa bawa canon-ku. Kemarin sempat bimbang antara bawa atau tidak. Aku pikir tak mungkin sempat aku ambil gambar serta resiko kena air yang paling aku takutkan. Sebenarnya perjalanan ini kesempatanku melatih kemampuanku ambil gambar. Tapi tak apalah, biar aku rekam semua pengalaman ini dalam otakku. Toh aku masih bisa menuangkannya dalam blog ini. Akhirnya menjelang matahari menggelincir aku menemukan tanda2 kehidupan. Lega juga rasanya mulai melihat rumah penduduk walau masih jauh sepemandang mata. Hari ini aku putuskan untuk menyelesaikan perjalananku. Aku segera meminggirkan si biru di samping sebuah dataran. Tampaknya seperti bekas ladang yang sudah lama tak digarap. Ada dangau kecil dipojok ladang samping pohon mahoni. Lumayan buat istirahat malam ini, pikirku. Si biru aku putuskan untuk kutarik ke atas, tak apalah besok sedikit repot menurunkan. Yang penting besok aku msih bisa melanjutkan perjalanan daripada tahu2 brantas banjir dan si biru lenyap. Setelah si biru naik, aku segera mengecek dangau calon kamarku. Ternyata tak sebaik dari jauh tadi. Sudah banyak ilalang dan lubang di atap rumbianya.
Aku putuskan untuk mendatangi rumah terdekat yang tadi sempat kulihat dari brantas. Ternyata aku tak salah ambil keputusan. Tuan rumah sangat wellcome menerimaku. Setelah berbasa-basi sebentar aku mengutarakan niatku untuk menumpang di ladang kosong pinggir brantas. Dia malah memaksaku untuk tinggal bermalam di rumahnya. berbagai cerita mengerikan tentang ular, jin dan tetek bengek dilontarkannya agar aku mau menerima ajakannya. Sebenarnya menarik juga tawarannya, tapi aku harus teguh pada tujuan seperti prinsip perang laut yang pertama (hehehehe). Akhirnya beliau mau menerima keberatanku. Kesempatan di rumah beliau aku gunakan untuk mengecash power bank, BB n tabletku ini. Setelah selesai mengamankan si biru dan mendirikan tenda, aku numpang mandi di rumah pak Nyoto. Sebenarnya ini menyalahi aturanku sendiri, tapi hari ini brantas coklat sekali jadi aku langgar dulu aturanku.
Malam pertama tidur di tenda setelah punya anak istri. Aneh rasanya, padahal dulu sering tidur di tenda. Waktu masih sipil maupun setelah pendidikan aku sering tidur dalam tenda. Mungkin karena sudah terlalu lama dibuai kenyamanan rumah kali ya ? Tapi tak apa biar alam melatihku lagi, pasti lama kelamaan aku akan terbiasa lagi. Jadi ingat kata-kata Letkol Bambang, "Manusia adalah makhluk yang paling mudah beradaptasi". Sudah ah, mata sudah mulai berat. Besok pagi aku masih harus menempuh perjalanan lagi. Malam ini biar aku cash dulu bateraiku. Mudah2an sepanjang brantas ada sinyal terus, biar orang dirumah tetap bisa kuhubungi. Ya Tuhan lindungi diriku ini sepanjang perjalananku. Amin
Aku putuskan untuk mendatangi rumah terdekat yang tadi sempat kulihat dari brantas. Ternyata aku tak salah ambil keputusan. Tuan rumah sangat wellcome menerimaku. Setelah berbasa-basi sebentar aku mengutarakan niatku untuk menumpang di ladang kosong pinggir brantas. Dia malah memaksaku untuk tinggal bermalam di rumahnya. berbagai cerita mengerikan tentang ular, jin dan tetek bengek dilontarkannya agar aku mau menerima ajakannya. Sebenarnya menarik juga tawarannya, tapi aku harus teguh pada tujuan seperti prinsip perang laut yang pertama (hehehehe). Akhirnya beliau mau menerima keberatanku. Kesempatan di rumah beliau aku gunakan untuk mengecash power bank, BB n tabletku ini. Setelah selesai mengamankan si biru dan mendirikan tenda, aku numpang mandi di rumah pak Nyoto. Sebenarnya ini menyalahi aturanku sendiri, tapi hari ini brantas coklat sekali jadi aku langgar dulu aturanku.
Malam pertama tidur di tenda setelah punya anak istri. Aneh rasanya, padahal dulu sering tidur di tenda. Waktu masih sipil maupun setelah pendidikan aku sering tidur dalam tenda. Mungkin karena sudah terlalu lama dibuai kenyamanan rumah kali ya ? Tapi tak apa biar alam melatihku lagi, pasti lama kelamaan aku akan terbiasa lagi. Jadi ingat kata-kata Letkol Bambang, "Manusia adalah makhluk yang paling mudah beradaptasi". Sudah ah, mata sudah mulai berat. Besok pagi aku masih harus menempuh perjalanan lagi. Malam ini biar aku cash dulu bateraiku. Mudah2an sepanjang brantas ada sinyal terus, biar orang dirumah tetap bisa kuhubungi. Ya Tuhan lindungi diriku ini sepanjang perjalananku. Amin
Start Arung Brantas
Hari pertama aku arungi Brantas. Aku start dari Malang, kota kelahiranku. Matahari belum muncul saat aku menurunkan si Biru ke air. Debit Brantas kali ini agak meningkat karena guyuran hujan semalam. Semua perlengkapan aku ikat erat pada si Biru, tak lupa kantong waterproof membungkus erat. Sebelum mulai arungi Brantas, aku coba manuvrakan si Biru. Cukup lincah, bahkan saat kucoba memutar kedalam air, dia cukup ringan membalik ke posisi awal. Dinginnya Brantas kalah dengan semangatku yang menggebu. Setelah yakin tak ada ikatan yang lepas pada perlengkapan, mulai aku kayuh pelan dayungku sambil memanjatkan doa agar aku selamat sampai tujuan.
Aku masih belum ada gambaran akan kemana nanti arus akan membawaku. Saat ini aku hanya akan mengikuti arus membawa si Biru. Tonjolan batu sebagai rintangan alami yang harus kuhindari seolah berusaha meraihku. Sayangnya masih ada sampah kadang ikut menyembul ke permukaan sungai. Sambil mengayuh pelan, ingatanku menerawang masa kecilku. Dulupun aku sering bermain di Brantas. Resiko dimarahi orang tua aku ambil asalkan bisa bermain di Brantas. Kini Brantas yang dulu angker sudah hilang, berganti Brantas yang terkepung bangunan tembok. Tanaman sepanjang aliran sudah banyak berkurang.
Aku terus menghanyutkan si Biru mengikuti arus Brantas sampai mendapati tempat teduh di bawah pohon waru ini. Lumayan juga perjalananku tadi. Aku belum tahu ini ada dimana,masa bodoh dengan itu. Segera aku ambil tabletku. Sedikit was-was, takut waterproof tak kedap. Ternyata aman, mulai aku menulis kan blog ini. Sudah cukup terik matahari, aku istirahat sebentar sambil isi blog ini.
Aku masih belum ada gambaran akan kemana nanti arus akan membawaku. Saat ini aku hanya akan mengikuti arus membawa si Biru. Tonjolan batu sebagai rintangan alami yang harus kuhindari seolah berusaha meraihku. Sayangnya masih ada sampah kadang ikut menyembul ke permukaan sungai. Sambil mengayuh pelan, ingatanku menerawang masa kecilku. Dulupun aku sering bermain di Brantas. Resiko dimarahi orang tua aku ambil asalkan bisa bermain di Brantas. Kini Brantas yang dulu angker sudah hilang, berganti Brantas yang terkepung bangunan tembok. Tanaman sepanjang aliran sudah banyak berkurang.
Aku terus menghanyutkan si Biru mengikuti arus Brantas sampai mendapati tempat teduh di bawah pohon waru ini. Lumayan juga perjalananku tadi. Aku belum tahu ini ada dimana,masa bodoh dengan itu. Segera aku ambil tabletku. Sedikit was-was, takut waterproof tak kedap. Ternyata aman, mulai aku menulis kan blog ini. Sudah cukup terik matahari, aku istirahat sebentar sambil isi blog ini.
Minggu, 03 Maret 2013
Persiapan arung sungai
Lama juga aku tidak nulis disini ya! Beberapa hari ini aku sedang mempersiapkan perjalanan yang akan kulakukan.Perjalanan ini sudah lama aku idamkan. Tak seperti perjalanan pada umumnya, kali ini aku akan mengarungi sungai dengan kano. Kemarin semua persiapan sudah lengkap. Lumayan juga anggaranku tersedot, tapi aku yakin semua akan terbayar lunas kelak setelah aku selesai arungi sungai. Kano idamanku saat ini sudah siap di rumah. Warna biru favoritku membalut sebagian besar kanoku. Kano ini kano tiup dari bahan sintetis, sangat praktis dan mudah dalam penyimpanan. Aku juga sudah siapkan tenda perorangan, kompor portable, penampung air, pisau komando, pematik api, perlengkapan pancing,serta berbagai perlengkapan perjalananku kali ini. Ini memang merupakan pengalaman pertamaku, jadi aku agak binggung dengan apa yang harus aku siapkan. Kali ini aku takboleh gagal, cuti kali ini akan aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk memuaskan jiwa petualanganku. Rencananya mau ajak anak istri sekalian, tapi biar aku sendiri dulu, nanti kalau sudah pengalaman baru aku ajak anak istriku menghadapi alam liar. Semua sudah beres, tak sabar aku menunggu besok pagi untuk berangkat.
Langganan:
Postingan (Atom)