SAM SUGA MENULIS

Rabu, 18 Agustus 2021

KHAWATIR

 

Sahabat, pernah gak merasa khawatir. Pasti pernah khan ? seringkali kita merasa khawatir tentang berbagai hal. Rasa khawatir kadang dapat membelenggu kita. Potensi diri yang kita miliki kadang tak akan bisa keluar secara optimal dengan segala kekhawatiran tersebut. Saat mendapatkan perintah untuk membuat presentasi dari atasan, kita khawatir kalo tidak bisa optimal. Kita selalu khawatir berbagai hal dalam kehidupan kita. Kita selalu khawatir akan kehidupan anak kita nantinya, kita khawatir kalo besok gak dapat naik pangkat, kita khawatir kalo besok tidak turun hujan. Terlebih pada kondisi covid ini, kekhawatiran semakin menjerat kita.

Saat ini saya berusaha untuk dapat menghilangkan segala kekhawatiran dalam diri. Hal ini bukan berarti saya abai terhadap segala ketetapan yang diberikan pemerintah dalam menghadapi covid19 ya.....Paling tidak saat ini kekhuatiran saya tidak lagi seperti saat-saat awal pandemi ini terjadi. Saya yakin segala kekhawatiran tersebut justru membuat energi kita terkuras habis. Pikiran kita akan terkuras memikirkan berbagai informasi yang bertebaran disekeliling kita itu. Melalui ketenangan pikiran atau batin, kita tak akan diganggu dengan kekhawatiran akan segala masalah, kebutuhan apalagi keinginan yang menguras energi kita. Semoga kedepan saya tetap bisa tenang menghadapi tantangan menulis ini setiap harinya. Tak khawatir tak dapat ide. Bagaimana dengan anda ?

MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN

 

Saya memiliki sifat yang kata orang perfeksionis. Dari kecil ibu saya bilang kalo saya "resikan-bahasa jawa" yang artinya suka pada kebersihan. Hal tersebut berlanjut hingga saya menikah dan punya anak kecil. Setelah hidup berumah tangga, apalagi memiliki anak kecil, sungguh sangat menyiksa bagi saya. Setiap pulang kerja emosi rasanya selalu meningkat melihat rumah yang berantakan. Awalnya saya tak bisa menerima keadaan itu. Karena saya juga tak mampu membaya asisten rumah tangga, jadi sepulang kerja saya harus membersihkan rumah, menata dan meletakkan barang pada tempatnya lagi. Rupanya kejadian tersebut selalu berulang, saya sangat paham posisi istri yang memang cukup repot dengan berbagai kegiatannya. Setelah saya pikir ulang, saya yang terlalu tidak mau menerima ketidaksempurnaan. Barang-barang harus selalu tertata rapi, rumah harus selalu bersih tanpa ada benda tergeletak dilantai, dsb. Akhirnya saya sadar bahwa saat kita menerima ketidaksempurnaan, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Saya pikir saat itu toh rumah saya tidak akan diinspeksi kebersihannya oleh dinas kebersihan kota. Kenapa saya harus pusing dengan ketidak teraturan rumah setiap pulang bekerja. 

Sikap perfeksionis ini bisa saja terjadi pada kita terkait diri kita sendiri misalnya merasa alis kurang tebal (khususnya ibu-ibu) he..he..he.., badan yang kurang berotot, kulit yang terlalu coklat, rumah yang kurang besar, mobil yang sudah tua dan banyak lagi. Selain itu ketidaksempurnaan yang terkait dengan orang lain juga kadang suka berpengaruh pada kita. Seperti tetangga yang sikapnya sombong, suka pamer, istri kita yang pelupa, suami kita yang suka tidur mengorok dsb. Jika kita selalu menuntut kesempurnaan, hal tersebut akan membuat kita selalu merasa tidak tentram. Bukannya bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini, namun akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginan kita. Kita perlu menekankan pada diri kita bahwa tanpa penilaian kita segalanya akan berjalan baik-baik saja. Bahwa saat kita dapat menerima ketidaksempurnaan kita, kita akan menemukan keindahan dalam hidup ini. Kesempurnaan hidup ini adalah ketaksempurnaan itu sendiri. Semoga saya juga dapat menerimanya, bagaimana dengan anda ?

MEMBESARKAN MASALAH

Membesarkan masalah kadang membuat kita puas. Entah kepuasan itu muncul karena apa. Saya masih suka seperti itu. Hal-hal kecil yang seharusnya tak perlu dibesarkan, masih sering menjadi masalah yang besar bagi saya. Rupanya kalo ditilik lebih dalam lagi, semua hanya memuaskan ego saja. Contoh kejadian kecil saat lagi berkendara di jalan, mobil disalip mobil lain yang  sedikit memotong mobil kita. Emosi para lelaki pasti akan naik saat mengalami hal tersebut. Atau hanya saya saja yang emosian ya ? he..he..he... Saya masih sering terbawa emosi untuk menyalip balik mobil tersebut, apalagi saat mengemudi seorang diri tanpa istri yang sering mengingatkan. Jika direnungkan lagi ternyata itu hanya hal kecil yang tak perlu kita ikuti ego kita. Sebetulnya saat kita tak terbawa ego, disalip mobil lain yang sedikit memotong tadi pastilah ada alasannya. Mungkin pengemudi tersebut butuh mengejar waktu, keluarganya sakit, sudah terlambat masuk kantor, rumahnya kebakaran atau beribu alasan lain yang bisa kita ciptakan untuk memberikan pembenaran pada mobil tadi. Dengan begitu kita memiliki kesempatan untuk selalu berpikir positif. Bisa kita bayangkan kalo kita yang berada pada posisi mobil tersebut. Tentunya akan sangat menegangkan saat kita sudah dikejar waktu untuk segera sampai. Bisa saja orang yang menyalip kita tadi berada dalam bahaya kecelakaan lalul-intas karena harus ngebut mengejar waktu.

Masih banyak hal-hal kecil yang seringkali kita jumpai dan kita anggap masalah. Anak yang suka terlambat bangun, istri yang telat menyajikan masakan, tetangga yang suka setel musik keras-keras. Jangan kita terbawa untuk selalu memuaskan ego, jadikan itu pembelajaran kita untuk lebih sabar sambil menempatkan diri kita pada posisi mereka. Berusaha terima kenapa mereka bisa berlaku seperti itu. Mulai dari hal-hal sederhana ini kita sama-sama belajar untuk selalu berpikir positif, belajar menjadi lebih sabar dan tidak terbawa emosi. Kalo kita sudah belajar mengerem emosi tapi ternyata masih belum berhasil juga, jangan putus asa, berarti kita sama. He..he..he....

Kamis, 12 Agustus 2021

GURU PRAJURIT

 

Menjadi guru tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku memang tidak berprofesi guru. Namun rupanya takdir menuntunku berkecimpung di dunia guru. Sama sekali tak pernah aku membayangkan akan berdiri di depan kelas memberikan pelajaran. Ternyata kegiatan itu menjadi tugasku saat itu ketika dinas di AAL (Akademi Angkatan Laut). Kini saat aku sudah tidak lagi berdinas di AAL, sudah tidak lagi mengajar di depan kelas, namun toh akhirnya takdir kembali membawaku ke dunia Pendidikan. Setelah berkecimpung di laut, kembali aku bertugas di Disdikal (Dinas Pendidikan TNI Angkatan Laut). Tak dinyana akupun kini sudah ada disini, berada disebuah komunitas guru yang benar-benar guru dalam arti harafiahnya.

Awal mengikuti kegiatan penguatan literasi yang diselenggarakan AAL aku juga sama sekali tak memiliki bayangan seperti apa kegiatannya. Begitu tiga hari didalamnya, ternyata aku menemukan aura dan semangat yang luar biasa dari para pembicaranya. Mereka para pembicara sangat menginspirasiku. Benar apa yang mereka sampaikan, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Satu hal yang paling memotivasiku adalah kurangnya literatur tentang Angkatan Laut yang disampaikan pemateri. Seingatku kegiatan kemarin memang baru pertamakali diadakan di lingkungan TNI AL. Harus aku akui bahwa literatur yang berhubungan dengan TNI AL  saat ini memang tidaklah banyak. Penulis buku yang ada di TNI AL juga dapat dihitung dengan jari. Memang sangat disayangkan hal tersebut, namun tak ada kata terlambat bagi hal yang postif. Mungkin kini sudah saatnya, kolaborasi dengan media guru menjadi jalannya. Sampai saat ini aku juga masih belum tahu apa yang harus aku tuliskan, namun gelora semangat literasi sudah membucah dalam dadaku. Semoga kegiatan literasi ini semakin menyebar luas di lingkungan TNI AL.

Sekarang yang terlintas dipikiranku bahwa ternyata menjadi TNI AL itu bisa merasakan berbagai profesi. Dahulu bayanganku saat menjadi TNI AL ya sudah tugasnya diatas kapal saja. Ternyata tidak demikian. Di TNI AL ada Puspenerbal (Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut), pastinya disitu banyak pilot, profesi yang berbeda dengan pelaut. Ada juga marinir yang kesehariannya sangat mirip dengan TNI AD. Lemdik (Lembaga pendidikan) di TNI AL yang bertugas mencetak prajurit menjadikan profesi guru bagi personel yang bertugas disana. Mereka adalah prajurit guru, atau guru prajurit  ?  Entahlah…..yang jelas kini mereka semua yang ada di AAL sudah tercerahkan dari para guru yang benar-benar guru.

Senin, 09 Agustus 2021

MULAI LAGI

 Benar kata orang kalo menulis itu harus dipaksakan. Itu jika kita memang memiliki niat. Bakat bukan segalanya, tapi niat yang utama. Meski tak ada bakat nulis dalam diriku, namun niat pun kadang naik turun. Sudah memang kalo sudah begini, tapi niat ini tetap akan tersimpan dalam diriku untuk tetap bisa menulis. Entah sampai kapan lagi aku akan bisa berada kembali disini. Bloggustu sudah aku buat bertahun yang lalu. Namun tak ada konsistensi diriku disini. 

Kkemarin karena perintah aku ikuti seminar kepenulisan yang diadakan AAL. Lumayan kegitannya, mampu melecut semangatku untuk kembali menulis. Apapun yang aku tulis tak ada masalah. Yang diutamakan adalah konsistensi. Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta diajak untuk konsisten menulis. Suasana dalam komunitas tersebut sangat kondusif dalam mendorong seseorang untuk mau melangkah. Pun akhirnya setelah sekian tahun tertidur, kembali aku posting disini.

Semoga semangat media guru yang aku ikuti mampu membuat semangatku tak redup. Terjaga terus dalam menggoreskan kata. Mudah-mudahan aku mampu menyelesaikan tantangan menulis 365 hari disana. Jadi setelah mengikuti giat pelatihan, aku mulai aktif dalam blog media guru. Mereka mengadakan tantangan menulis 30 hari, 365 hari dan seterusnya. Yang unik, para penulis disana yang mayoritas memang guru sekolah, telah menulis jauh dari tantangan 365 hari. Ada yang kulihat sudah menulis tantangan 675 hari. Rupanya mereka sulit berhenti saat sudah dimulai. Kebiasaan menulis yang diterapkan mampu merubah habit mereka dalam menulis. Semoga aku bisa mengikuti jejak mereka.