Tugas
1. Sebutkan dan jelaskan 5 azaz perang laut yang anda ketahui !
2. Sebutkan dan jelaskan jenis operasi peperangan atas air !
Rabu, 21 Agustus 2013
BAB IV PEPERANGAN LAUT
9. Asas-asas Perang Laut.
Asas-asas perang laut
adalah suatu kebenaran pokok yang berlaku dalam cara berperang dan berpengaruh
terhadap pelaksanaan operasi laut. Di
dalam penerapannya, asas-asas perang laut harus dilaksanakan secara kenyal,
cermat dan bijaksana dengan memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan
situasi di lapangan. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut :
a. Asas Teguh Pada Tujuan. Setiap operasi laut harus diarahkan pada
tujuan yang dinyatakan secara jelas dan tegas.
Tujuan dan sasaran harus dipegang teguh tanpa meninggalkan kekenyalan
(fleksibilitas) bertindak dalam menghadapi perkembangan situasi yang mungkin
berubah.
b. Asas Penyerangan (Ofensif). Tindakan penyerangan (ofensif)
merupakan syarat bagi suatu satuan untuk mempertahankan inisiatif dalam
mencapai tujuan, terpeliharanya perimbangan kekuatan dan kebebasan bertindak
sesuai sasaran, tempat dan waktu.
c. Asas Kesatuan Komando. Kesatuan komando mutlak diperlukan dalam
pelaksanaan operasi laut. Adanya tujuan dan sasaran operasi memerlukan kesatuan
komando untuk menjamin pelaksanaan dan memudahkan pengendalian.
d. Asas Pemusatan Kekuatan. Pemusatan kekuatan/daya tempur pada waktu
dan tempat yang tepat dengan cara :
1) Mengkonsentrasikan
penggunaan daya tempur untuk memperoleh keunggulan terhadap musuh pada waktu
yang telah ditentukan.
2) Dengan
dukungan dan mobilitas yang tinggi, maka kekuatan dari tempat yang berbeda
dapat dikonsentrasikan untuk menghancurkan kekuatan pokok musuh atau merebut
sasaran pada jurusan utama yang akan menentukan keberhasilan.
e. Asas Pendadakan. Pendadakan dapat merubah imbangan daya tempur.
Tindakan pendadakan dilaksanakan dengan memanfaatkan faktor waktu dan tempat
serta cara-cara yang tidak diperkirakan oleh musuh.
f. Asas Moril (Fighting Morale). Keberhasilan
perang pada akhirnya lebih ditentukan oleh moril prajurit itu sendiri
dibangdingkan persenjataan yang dimiliki.
Kepercayaan pada diri sendiri, atasan, senjata dan semangat setia kawan
senantiasa perlu ditumbuhkan sebagai landasan moril tempur.
g. Asas Kerahasiaan. Kerahasiaan merupakan faktor penting dalam setiap
pertempuran. Tanpa kerahasiaan, maka tidak akan diperoleh kebebasan bertindak.
Salah satu cara menjaga kerahasiaan adalah mengendalikan komunikasi.
h. Asas Kerjasama. Kegiatan operasi laut memerlukan adanya kerjasama dalam
bentuk interaksi dan koordinasi antara unsur dan satuan untuk mencapai hasil
yang optimal.
i. Asas Kekenyalan (Fleksibilitas). Perkembangan situasi dan
perubahan-perubahan yang tidak terduga di lapangan menuntut adanya kekenyalan
guna mendukung kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan.
j. Asas Ekonomis. Penggunaan dan pengerahan kekuatan harus diperhitungkan
secara cermat dengan memperhatikan faktor ekonomis agar diperoleh efisiensi.
k. Asas Manuver. Manuver dengan mobilitas yang tinggi dari kekuatan dalam
tiga dimensi medan tempur (permukaan, bawah permukaan dan udara) akan
menghasilkan kecepatan reaksi dalam setiap tindakan tempur.
l. Asas Administrasi. Kegiatan administrasi meliputi penyediaan semua kebutuhan
logistik dan material pendukung tempur agar setiap satuan dapat melaksanakan
tugasnya secara optimal.
10. Peperangan Atas Air (AWW).
a. Area peperangan. Area peperangan ini termasuk penggunaan
media permukaan laut dan udara di atasnya untuk menghadapi ancaman musuh pada
media yang sama.
b. Kategori peperangan
atas air (AWW). Peperangan atas
air dapat di kategorikan menjadi : Peperangan anti kapal permukaan (ASuW)
dan Peperangan anti Udara (AAW).
1) Peperangan anti kapal permukaan (ASuW). Peperangan anti kapal permukaan adalah
peperangan yang terencana dan mengutamakan kecepatan reaksi dalam
mengantisipasi datangnya serangan dari kapal permukaan musuh dan konsep
peperangan ini lebih bersifat ofensiv.
2) Peperangan anti Udara (
AAW ). Peperangan anti udara merupakan suatu rangkaian aksi
untuk mempertahankan kekuatan atau unsur sendiri dari ancaman kapal terbang
atau peluru kendali musuh. Untuk peperangan ini kecepatan reaksi adalah
diutamakan sehingga kesan aksi terencana kurang dan peperangan ini lebih
bersifat defensive. Peperangan anti udara diklasifikasikan menjadi:
a) Pertahanan anti pesawat terbang (AAD)
b) Pertahanan anti peluru kendali (ASMD).
c. Jenis operasi
peperangan atas air (AWW). Operasi peperangan permukaan dapat dibagi
menjadi :
1) Aksi Offensive. Tujuan
dari operasi ini adalah untuk menghancurkan, menetralisasi atau merusak kekuatan musuh untuk tetap mempertahankan pengendalian
laut atau untuk menghindari penguasaan aset – aset laut oleh musuh. Dalam
operasi ini kita harus memiliki kemampuan pukul yang kuat , efektif dan
efisien. Contoh dari aksi-aksi ofensif adalah:
a) Mencari dan menghancurkan kapal perang musuh.
b) Mencari dan menghancurkan badan utama musuh.
c) Pengendalian laut untuk menghindari musuh menggunakan lautan
sebagai sarana untuk operasi militer atau kegiatan ekonomi lainnya.
d) Blokade pada Choke Point musuh.
e) Pengelabuan terhadap musuh atau suatu target tertentu.
f) NGFS atau Bombardement sasaran pantai.
2) Aksi Defensive. Tujuan dari aksi ini adalah untuk
mempertahankan kekuatan sendiri atau badan utama terhadap ancaman musuh dan
apabila memungkinkan sekaligus memaksa musuh untuk menarik mundur kekuatannya
dari mandala operasi. Pada operasi ini penghancuran, netralisasi dan perusakan
kekuatan musuh bukan merupan prioritas utama. Contoh dari aksi-aksi defensive
adalah:
a) Operasi pengawalan.
b) Operasi perlindungan terhadap kapal-kapal niaga.
c) Operasi melindungi aset-aset yang ada di laut.
Dll.
3) Operasi-operasi
lainnya. Kekuatan angkatan
laut dapat juga digunakan untuk melaksanakan operasi-operasi lain untuk
mendukung pelaksanaan operasi pertempuran yang seseungguhnya. Contoh dari
operasi ini adalah:
a) Surveillance.
b) Patroli.
c) Shadowing
d) Mempertahankan kehadiran di laut.
d. Jenis platform
peperangan atas air (AWW). Operasi–operasi
peperangan atas air / AWW dapat dilaksanakan oleh berbagai
jenis platform dengan segala kelebihan
dan kekurangannya. Platform-platform tersebut antara lain:
1) Kapal permukaan.
2) Pesawat pengintai.
3) Pesawat tempur.
4) Helikopter.
e. Jenis ancaman pada
peperangan atas air/AWW. Berbagai
jenis platform yang dapat digolongkan sebagai ancaman dalam peperangan atas
air adalah:
1)
Kapal
permukaan (Rudal, meriam, torpedo atau kombinasi antara ketiga armament
tersebut)
2)
Pesawat
pengintai
3)
Pesawat
tempur.
4)
Helikopter.
5)
Baterey
pantai
6)
Kapal
selam.
f. Jenis-jenis senjata pada peperangan
atas air / AWW. Dalam memilih senjata ada beberapa
hal yang menjadi pertimbangan antara lain:
1)
Jarak.
2)
Daya
hancur.
3)
Akurasi.
4)
Kecepatan
tembak.
5)
Sistem
pengendalian.
6)
Berat,
ukuran dan jumlah yang dapat dibawa.
7)
Kemampuan
meng-counter serangan dan kemampuan melaksanakan serangan balasan/susulan.
8)
Misi
(berhubungan dengan tingkat kehancuran yang diharapkan).
Dari
pertimbangan-pertimbangan di atas dapat kita golongkan persenjataan yang
digunakan pada peperangan laut modern antara lain:
1) Peluru Kendali / Rudal. Jarak jangkau yang jauh, kandungan
bahan peledak yang banyak,
kecepatan tinggi, akurasi yang baik. Adapun Rudal dapat dibagi menjadi:
a) SSM (Rudal Permukaan ke Permukaan)
b) SAM (Rudal Permukaan ke Udara)
c) ASM (Rudal Udara ke Permukaan)
2) Meriam dan Rocket.
3) Rocket udara dan bomb.
4) Torpedo.
g. Fase-Fase Peperangan
atas air (AWW). Aksi peperangan
atas air termasuk semua aksi untuk mengcounter ancaman serangan permukaan
musuh. Hal ini dapat dibagi menjadi 4 fase, tergantung dari aktivitas yang
dilaksanakan, fase-fase tersebut adalah:
1)
Fase
Persiapan
2)
Fase
Pencarian.
3)
Fase
Penyerangan.
4)
Fase
Selesai Penyerangan.
Senin, 19 Agustus 2013
Materi BAB III DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TERHADAP PERANG LAUT
6. Perkembangan Teknologi.
Penting sekali untuk
mengetahui, memahami dan mengerti perkembangan teknologi khususnya hal-hal yang
berhubungan dengan angkatan laut. Hal
ini tentunya dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan
menentukan strategi, pola operasi dan taktik yang akan dilaksanakan saat
melaksanakan peperangan laut.
a. Peningkatan
kemampuan peralatan.
1) Pesawat
udara dapat terbang lebih jauh, lebih cepat, lebih besar kemampuan muat dan
jari-jari putar lebih kecil.
2) Kapal
dapat melepaskan tembakan lebih dahsyat dan dapat mempertahankan diri terhadap
berbagai ragam serangan.
b. Peningkatan
kemampuan senjata dan sistem kendali senjata.
1) Adanya
peningkatan tenaga dan kecepatan roket/rudal. Roket/rudal dapat mencapai
kecepatan yang tinggi dan jarak sampai ratusan kilo meter.
.
2) Rudal,
bom, tembakan arteleri dan jenis lainnya telah menggunakan teknik Precision
Guidance dan teknologi Homing. Dengan teknologi tersebut Rudal, bom, tembakan
arteleri dan jenis lainnya secara otomatis dapat mengikuti, mengenai dan
menghancurkan sasaran yang bergerak maupun diam serta rudal lawan yang mengarah
ke kapal sendiri.
3) Radar
kendali senjata (Radar Guided Weapons) dapat mengarahkan dan mengontrol arah
senjata sesuai keinginan terhadap sasaran yang akan dihancurkan baik itu
sasaran atas air, udara maupun rudal lawan yang mengarah ke kapal sendiri.
4) Sistem
ranjau yang apabila disebar pada atau di atas dasar laut menunggu “Noise” dari
sasaran, dan apabila sasaran sudah dekat, secara otomatis dapat menghancurkan
sasaran.
5) Sistem
penglihatan malam yang memungkinkan dapat medeteksi musuh dalam kondisi sedikit
berasap, berdebu, berawan, hujan dan berkamuplase.
6) Pesawat
udara yang dapat melayang dan mendarat seperti Helli Kopter.
7) Pesawat
robot miniatur yang dapat terbang hingga ke belakang garis musuh untuk
mengintai langsung, menemukan sasaran, melakukan elektronik jamming dan
melakukan serangan langsung.
c. Peningkatan
kemampuan sensor dan sistem navigasi.
1) Kemampuan
sensor sudah mencakup atas air, bawah air dan udara dengan jarak deteksi yang
cukup jauh (melebihi kemampuan jarak capai senjata) dan dapat diintegrasikan
dengan sistem Sewaco.
2) Sistem
navigasi dapat menentukan posisi yang akurat dengan menggunakan sarana bantu
satelit, sehingga dimanapun posisi kapal akan didapat walaupun tidak ada
referensi daratan/rambu-rambu navigasi.
3) Negara-negara
berteknologi tinggi telah memiliki peralatan berkemampuan Long and Short Range
Surveillance, Target Acquisition and Identification Technologies yang semakin
efisien secara selektif dapat mendeteksi, melokalisasi, mengenal dan mengikuti
perkembangan obyek-obyek militer penting yang berada di darat maupun di
permukaan laut.
d. Peningkatan
kemampuan Platform dan sistem pendorongan kapal.
1) Dikembangkannya
mesin-mesin turbo-fun, turbo-jet dan desain propeler serta penggunaan bahan
bakar mesin yang irit dapat melahirkan kapal-kapal yang berkecepatan tinggi dan
dapat beroperasi di laut lebih lama.
2) Desain
platform/bentuk kapal yang dibuat memilki radar crosection, getaran,
kebisingan, panas dan kemagnetan yang kecil akan cukup sulit untuk dapat
terdeteksi oleh peralatan sensor/radar.
e. Perkembangan sistem K3I (Komando,
Kendali, Komunikasi dan Informasi).
Peningkatan kemampuan pengolahan data secara otomatik, maka area surveillance,
target acquisition, klasification and locating system dan weapons system dapat
diintegrasikan secara elektronik hal ini dapat melipat gandakan
kemampuan/efektivitas tempur.
f. Peningkatan kemampuan cara
satuan-satuan beroperasi di medan tempur. Cara-cara satuan militer dalam
menyebar, bergerak, berkomunikasi, bersembunyi, menyerang, mempertahankan dan
beristirahat akan sulit diprediksi.
7. Dampak dari Perkembangan Teknologi dan
Permasalahan yang Dihadapi Kapal Atas Air (KAA).
a. Dampak
dari perkembangan tenologi.
1) Beberapa
jenis rudal dapat menghancurkan sasaran yang berada di luar cakrawala (visual
maupun radar tidak dapat mendeteksi posisi sasaran), posisi sasaran didapat
dari informasi fihak kawan (pesawat udara maupun KAA). Teknik penembakan
seperti ini dinamakan Over The Horizon Target (OTHT).
2) Rudal
anti kapal permukaan memiliki daya hancur yang tinggi, dapat dikendalikan dari
berbagai jurusan, lintasan rudal rendah sehingga sukar ditangkap oleh radar dan
sukar mengetahui posisi sipenembak rudal.
3) Penghindaran
dengan menggunakan manuvra dari serangan rudal kurang bermanfaat, penghindaran
yang efektif hanya dapat dilakukan dengan cara merusak atau mengacaukan kendali
senjata lawan (ECM).
4) Rudal
anti kapal permukaan dan anti udara dapat dipasang pada kapal atas air,
kapal selam dan pesawat udara, sehingga
kapal atas air akan semakin komplek dalam menghadapi serangan lawan.
5) Kapal
induk yang dapat mengangkut pesawat udara, dapat memanfaatkan pesawat udara
tersebut sebagai kepanjangan tangan dan mata untuk mencari dan menghancurkan
kapal atas air lawan serta dapat dijadikan sebagai pertahanan anti udara.
6) Rudal
yang mempunyai konfigurasi nuklir jarak jauh digunakan untuk menghancurkan
sasaran darat dapat diluncurkan dari kapal selam.
7) Mengingat
kompleknya ancaman, kapal atas air dalam melaksanakan peperangan laut sangat
membutuhkan perlindungan dari pesawat udara.
8) Serangan
kapal selam masih ditakuti oleh kapal atas air, hal ini disebabkan karena
sensor bawah air / sonar cukup sulit untuk mendeteksi keberadaan kapal selam
tetapi sebaliknya kapal selam akan mudah mendapatkan kontak kapal atas air dan
menghancurkannya dengan menggunakan torpedo maupun rudal.
b. Permasalahan
yang dihadapi Kapal Atas Air (KAA).
1) Ancaman
terhadap KAA bisa datang dari udara, permukaan air dan bawah permukaan
air. Untuk mengatasi hal tersebut KAA
harus dapat mengkoordinasikan berbagai sistem senjata dalam menghadapi ancaman
tersebut.
2) KAA
sangat mudah terdeteksi oleh sensor atas air maupun udara (Radar) akan menjadi sasaran yang mudah
dihancurkan oleh rudal.
3) Pergerakan
KAA di laut menimbulkan suara/kebisingan yang cukup keras, akan mudah
terdeteksi oleh sensor bawah air (sonar) hal ini memudahkan diserang oleh
senjata bawah air (Torpedo).
4) KAA
memilki kemagnetan yang cukup tinggi rawan terhadap ranjau yang cara
peledakannya dipicu oleh kemagnetan dimana ranjau dapat meledak tanpa harus
terjadi tumburan.
5) KAA
rawan terhadap serangan udara. Pesawat
udara memilki kecepatan tinggi, kemampuan senjata dan sensor yang jauh sehingga
KAA sulit dalam menghadapi serangan udara.
6) KAA
dituntut memilki kemampuan sistem sensor beserta instalasi perlindungan diri
dan sistem K3I yang baik guna menghadapi serangan lawan.
8. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam
Melaksanakan Pertempuran di Laut.
Berdasarkan dari dampak
perkembangan teknologi terutama berkembangnya kemampuan sistem sensor/radar dan
Senjata, serta permasalahan yang dihadapi kapal atas air, beberapa hal perlu
diperhatikan dalam melaksanakan pertempuran di laut.
a.
Karena semakin
sempurnanya sarana “Early Warning” dan pengintaian, maka masing-masing fihak
yang bertempur akan saling mengetahui posisi dan gerakan satuan permukaan air
lawannya.
b.
Karena
sempurnanya pengamanan, maka informasi mengenai kemampuan dan karakteristik
peralatan serta sumber daya musuh tidak lagi mudah diperoleh.
c.
Pertempuran
laut akan menjadi semakin bersifat teknik seperti misalnya dengan lahirnya “Self
Guide Missile” maka peranan manusia akan semakin berkurang.
d.
Komputerized
information mengenai musuh juga menjadi semakin penting.
e.
Karena “Hit
probability” peluru kendali itu jauh lebih besar dari pada meriam konvensional,
maka keuntungan akan diperoleh fihak yang dapat menembak terlebih dahulu.
f.
Desain
struktural dan “Damage Control” akan menjadi semakin penting agar kapal tidak
mudah tenggelam oleh hanya satu tembakan peluru kendali.
g.
Menentukan
lokasi medan tempur diupayakan agar pesawat udara yang berpangkalan di darat
dan “Fixed Acoustic Arrays” dapat memberikan dukungan.
h.
Dalam melaksanakan
peperangan permukaan air, kapal selam dan satuan-satuan udara cenderung untuk
diikutsertakan/dilibatkan.
Rangkuman.
Pengetahuan tentang
Perkembangan Teknologi dapat dijadikan pertimbangan pengambilan keputusan dalam
menentukan strategi, pola operasi dan taktik yang akan dilaksanakan saat
melaksanakan peperangan laut. Perkembangan Teknologi yang dimaksud adalah peningkatan
kemampuan peralatan, peningkatan kemampuan senjata dan sistem kendali senjata, peningkatan
kemampuan sensor dan sistem navigasi, peningkatan kemampuan platform dan sistem
pendorongan kapal, perkembangan sistem K3I (Komando, Kendali, Komunikasi dan
Informasi) dan peningkatan kemampuan cara satuan-satuan beroperasi di medan
tempur. Dampak dari perkembangan
teknologi tersebut akan menjadikan permasalahan bagi kapal atas air saat
melaksanakan peperangan laut.
Berdasarkan permasalahan tersebut tentunya akan banyak hal-hal yang
perlu diperhatikan saat melaksanakan pertempuran di laut.
Langganan:
Postingan (Atom)