SAM SUGA MENULIS

Senin, 18 Maret 2013

Kesialan Pertama, semoga terakhir

Syukur pada Tuhan, hari ini aku masih bisa nulis di sini. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari ini, akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa memang tidak mudah !. Tidak mudah menempuh perjalanan alam liar seorang diri. Tapi puji Tuhan aku masih bisa melaluinya sampai hari ini. Rupanya aku melupakan kompas penentu arah. Kupikir aku tak akan memakainya, karena tinggal mengikuti arus berantas, beres ! . Aku salah duga. Si biru tak mungkin aku ajak terjun bebas di ketinggian kemarin. Nyaliku juga belum teruji untuk berkano melewati air terjun. Terpaksa aku harus memanggul si Biru memutar turun ke aliran berikutnya. Disini musibah berawal. Dugaanku bisa langsung dapat jalan, ternyata tak semudah itu. Lebatnya pepohonan menghalangi jalanku menuju pinggiran sungai. Beban si biru ditambah perbekalan menambah beban yang harus kupikul. Orientasi arah lagi-lagi menjadi kelemahanku. Aku benar-benar merasa sendiri, cahaya matahari tak mampu menembus rapatnya pepohonan. Saat itu aku mantapkan hati untuk terus bergerak membawa si biru menembus hutan. Terlalu percaya dirinya aku,sehingga aku tidak ingat lagi kemana arah yang kutuju. Untuk kembali ke titik awal aku angkat si birupun aku sudah tak ingat. Jadilah aku berputar-putar sepanjang hari.
Kesialanku bertambah lagi dengan turunnya hujan. Perut yang mulai teriak serta pundak yang mulai bengkak seakan melepaskan semua semangat dalam diri. Tanpa sempat mendirikan tenda, aku pakai si biru untuk menghalangi derasnya air hujan yang mengguyur. Niatan untuk memasak aku urungkan melihat kondisi alam yang tak memungkinkan. Agak panik juga aku melihat cuaca makin gelap, rupanya sore sudah menjelang. Rencanaku setelah hujan reda aku akan membuat api unggun. Rupanya alam tak bersahabat denganku. Hujan makin deras, seiring gelapnya malam yang menjelang. Akhirnya aku putuskan membawa si biru diantara dua pohon pendek. Aku letakkan sedemikin rupa menjadi semacam atap. Lumayan untuk bertahan di cuaca hujan begini. Kondisi tersebut mengingatkanku saat masih di Magelang dan bisa tidur di lumpur sawah. Ternyata kondisi tersebut aku rasakan lagi setelah 17 tahun kemudian. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat panjang buatku. Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga hujan segera reda dan tidak ada binatang buas yang menghampiriku. Detik demi detik rasanya tak pernah beranjak. Plastik besar yang kubawa sangat berarti untuk menahan curahan air. Kantung tidur aku lapisi dengan plastik besar tersebut sehingga lumayan terlindungi aku.
Saat mengalami hal itu, seolah aku menjadi orang yang paling bodoh. Saat seharusnya aku bisa bersama keluarga saat cuti ini, aku malah harus berada di hutan dan kehujanan. Tetapi saat sudah berlalu, dan menuliskannya disini rasanya seperti suatu pengalaman yang mengesankan. Memang semua rasanya indah saat diceritakan walaupun tidak enak saat menjalaninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar